Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah


Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah

Faktor ekonomi dianggapap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah Karena dalam keluarga yang kurang mampu cenderung timbul berbagai masalah yang berhubungan dengan pembiayaan hidup seorang anak, sehingga anak sering dilibatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan sang anak ini merasa terbebani dengan masalah ekonomi ini sehingga dapat mengganggu kegiatan belajar serta kesulitan mengikuti pelajaran. Dengan adanya kurangnya perhatian dari orang tua, justru akan menimbulkan banyak masalah.

Kurangnya ekonomi yang berasal dari orang tua ini menyebabkan tidak adanya penghasilan tetap/tak memiliki pekerjaan atau tidak tersedia lapangan pekerjaan yang mencukupi, kurangnya minat dalam meraih pendidikan atau mengenyam pendidikan dari dalam benak anak didik itu sendiri, bahkan dari faktor lingkungan baik itu datang dari perbuatan maupun dari pergaulan sehari-hari dengan teman sebayanya atau dari lingkungan yang lain, kurangnya motivasi dan pengawasan dari orang tua yang disebabkan oleh orang tua yang tak pernah mengenyam pendidikan dan tak memahami arti penting dari sebuah pendidikan untuk kehidupan bangsa dan bernegara juga merupakan salah satu penyebab kasus anak putus sekolah.

faktor ekonomi merupakan faktor utama dalan kehidupan kita. Mengapa demikian? Karena kita membeli segala sesuatu dengan menggunakan uang sebagai pemenuh kebutuhan kita. Tak terkecuali untuk sekolah. Kadang, ada anak anak yang tidak mau di kasih uang jajan sedikit sehingga memberatkan orang tua. Ada anak yang kerjaannya hanya menghambur hamburkan uang dengan membeli pernak pernik kekinian. Dalam pendidikan, keuangan juga penting. Seperti : untuk membeli buku, tas, dan lainnya. Seperti yang kita ketahui tak semua orang kaya dan tidak semua anak berkeinginan untuk belajar. Ada anak yang hanya berfikir ke sekolah untuk bersenang senang dan bermain bersama teman teman padahal sekolah sebenarnya lebih dari pada itu. Sebenarnya, faktor ekonomi tak menjadi satu satunya faktor ekonomi yang menjadi faktor meningkatnya angka putus sekolah. Tetapi banyak faktor lain. Nah, beberapa anak yang memiliki semangat untuk sekolah biasanya mendapatkan beasiswa atau dana bantuan dari beberapa pihak. Dan untuk anak yang tidak semangat sekolah dan orang tuanya tidak memiliki cukup dana maka yang akan terjadi adalah putus sekolah. "Namun, setiap anak memiliki hak untuk sekolah. Mau atau pun tidak mereka harus tetap sekolah. Karena sekolah sebagai tempat menimbal ilmu yang ilmunya akan di gunakan di masa depan. Ketika seorang anak tidak sekolah maka berarti terjadi pelanggaran hak seorang anak. Baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Langsung maupun tidak langsung."

Namun Sebenarnya faktor ekonomi bukan juga sebagai penentu putusnya sekolah, karena Faktor penentu putusnya sekolah sebenarnya ada pada diri kita sendiri yang malas sekolah.

Adakah faktor lain selain faktor ekonomi yang menjadi penyebab meningkatnya angka putus sekolah ? Apabila ada, apa saja faktor tersebut ?

Faktor – faktor lain yang menyebabkan anak putus sekolah yaitu :

1.      Faktor yang datangnya berasal dari diri anak itu sendiri, seperti anak yang malas berangkat sekolah karena tidak memiliki minat dalam pendidikan. Hal ini karena faktor lingkungan yang mempengaruhi anak tersebut, misalnya saja karena malas belajar karena kebanyakan main game dan menonton tv, desakan pergaulan, pola pikir anak yang menganggap pendidikan tidak penting kemudian rasa minder karena anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya dan kesenjangan ekonomi kemudian keadaan lingkungan sperti keluarganya yang kurang memotivasi anak untuk sekolah yang menjadi penyebab anak enggan ke sekolah.

2.   Pemaksaan hak oleh orang tua. Pendidikan merupakan kewajiban dari orang tua, namun kadang ada orang tua yang mengatur pendidikan yang dipilih dari anaknya dan sering bersifat memaksa. Pendidikan yang dipilih orang tua selalu dianggap terbaik untuk mereka, walaupun keinginan, minat dan bakat, dan kemampuan dari si anak tidak sesuai. Anak yang terpaksa menuruti pendidikan dari orang tuanya yang tidak sesuai dengan keinginanya akan berpengaruh pada psikologisnya. Dalam belajar anak tersebut akan cenderung bertele-tele dan asal-asalan dalam menimba ilmu di sekolah, kemudian mengakibatkan nilai dari anak tersebut jelek dan berujung pada putus sekolah.

3.   Kurangya prasarana dan fasilitas penunjang pendidikan. Sering kita jumpai dalam media massa pemberitaan tentang anak-anak yang bersekolah di bawah jembatan, tidak adanya transportasi untuk pergi ke sekolah sampai ada yang rela berjalan jauh melewati hutan  hanya demi mengenyam sebuah pendidikan. Dalam pedesaan atau daerah terpencil belum semua anak bisa menikmati pendidikan di sekolah, para pendidik, transportasi dan gedung sekolah yang memadai dan yang dibutukan pun belum bisa dipenuhi oleh pemerintah untuk mereka. Karena lingkungan atau tempatnya yang sulit dijangkau sehingga masih banyak dari mereka yang belum menyentuh pendidikan formal. Dalam pembelajaran yang efektif diperlukan fasilitas-fasilitas penunjang yang memadai. Fasilitas-fasilitas tersebut berupa alat tulis, buku pelajaran, serta perangkat-perangkat pendukung pembelajaran lainya yang memadai. Kurangnya fasilitas penunjang tersebut akan mengakibatkan minat anak untuk belajar turum, sehingga berpotensi untuk putus sekolah.

4.      Pola pikir masyarakat. Masyarakat yang tradisional atau masyarakat yang hidup dipedesaan mempunyai pola pikir yang mengaggap pendidikan merupakan hal yang tidak penting, mereka berpikir buat apa sekolah tinggi tapi kalau hanya menjadi pengangguran atau ujung-ujungnya hanya berladang membantu kedua orang tuanya atau menangkap ikan dilaut. Mereka berpikir bahwa pendidikan di sekolah hanya membuang-buang waktu, uang dan termasuk kegiatan yang tidak berguna serta tanpa pendidikan pun pasti bisa hidup layak. Ada juga sebagian masyarakat yang memandang perempuan tidak berhak sekolah, karena kaum perempuan hanya burujung menjadi ibu rumah tangga. Bahkan ada sebagian masyarakat pedesaan yang memilih menikahkan anaknya di usia muda, sehingga kedudukan pendidikan dalam kehidupanya hanya sebagai pelengkap. 

5.    Kelainan fisik maupun mental. Angka putus sekolah dikarenakan faktor ini tidak sebanyak faktor-faktor lain, karena sudah adanya sekolah yang dikhususkan untuk anak kelainan fisik maupun mental yaitu Sekolah Luar Biasa. Namun jika menengok ke lapangan masih ada anak yang putus sekolah atau tidak bisa bersekolah dikarenakan fakor ini.


Post a Comment for "Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah"